Mari Saling Jaga Tali Persaudaraan Antara Kita


 Penting untuk ditegaskan bahwa intoleransi yang muncul di Aceh tidak merepresentasikan seluruh masyarakat Aceh. Berdasarkan pengalaman pribadi saya ketika berkunjung dan berbaur langsung dengan warga Aceh, saya justru merasakan sikap yang ramah, terbuka, dan penuh penghormatan. 

Bahkan ketika mereka mengetahui bahwa saya adalah seorang PENDETA saya tetap diterima dan dilayani seperti saudara.


Hal ini menunjukkan bahwa persoalan intoleransi lebih tepat dipahami sebagai tindakan segelintir kelompok garis keras yang membungkus kepentingan dan ideologi mereka dengan dalih agama. 


Agama kemudian disalahgunakan sebagai legitimasi, bukan dijalankan sebagai nilai etika yang menjunjung kemanusiaan dan keadilan.


Oleh karena itu, generalisasi bahwa Aceh adalah wilayah intoleran merupakan kesimpulan yang keliru dan tidak akademis. Yang perlu dilawan adalah ekstremisme dan penyalahgunaan agama, bukan masyarakat Aceh secara keseluruhan yang pada dasarnya memiliki budaya luhur dan sikap saling menghormati

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Perayaan Natal GPdI se-Maluku Utara & GPdI Ekklesia Lelilef Sawai Tema: “Dialah Damai Sejahtera Kita yang Mempersatukan” (Efesus 2:14)

GPdI Maluku Utara Terus Bertumbuh, Siap Buka Sidang-Sidang Penggembalaan Baru dibawah Pimpinan Pdt Heri Mangadil M.Th, M.Pd

SMK Manggala Perkasa Resmi Diresmikan Gubernur Maluku Utara